Gue kerja di SCBD. Tiap hari liat ribuan sepatu lewat di lobby, lift, food court.
Dan dalam 1 tahun terakhir, something shifted.
Dulu? Nike, Adidas, New Balance. Everywhere.
Sekarang? Ortuseight Hyperblast Encore SL. Kanky Honjo. Compass Velocity. Brodo Active. Ardiles Escent.
Sepatu lokal bukan lagi “alternative murah”. They’re the choice.
Ground Truth dari SCBD
Ini bukan teori atau wishful thinking. Ini observasi gue dari ground zero – jantung bisnis Jakarta.
Yang gue liat di kantor:
Ortuseight Hyperblast Encore SL – Model ini everywhere. Karyawan startup, konsultan, even manager level. Warna netral (white/grey), comfortable, professional enough buat meeting.
Kanky Honjo & EXC 02 – Gen Z favorite. Desain minimalist yang somehow berhasil look premium tanpa trying too hard. Harga Rp200-400 ribuan tapi vibes-nya setara sepatu Rp1 juta+.
Compass Velocity – The OG yang comeback. Dulu identik dengan anak SMA, sekarang malah jadi statement piece di corporate casual.
Brodo Active – Leather loafers untuk yang perlu formal tapi gak mau sacrifice comfort. Colleague gue pake ini 3 tahun masih solid.
Ardiles Escent – Dark horse. Desain clean, construction solid, harga reasonable (Rp300-500 ribuan).
Yang lebih menarik: conversation di pantry.
“Gue pake Ortuseight ini udah 2 tahun lebih, masih oke banget.”
“Kanky gue tahan 3 tahun sebelum akhirnya ganti karena bosen, bukan karena rusak.”
“Compass sekarang quality control-nya jauh lebih baik dari dulu.”
This isn’t loyalty based on nationalism. It’s based on performance.
Data Memvalidasi Observasi
Ternyata yang gue liat di SCBD bukan anomali. Ini nationwide trend.
Research menunjukkan fenomena “orang memakai sepatu dari brand lokal Indonesia ke kantor di Jakarta memang nyata dan semakin meluas.” Brand lokal seperti Compass, Ventela, Patrobas, League, NAH Project sedang trending – tidak hanya di kalangan pelajar, tapi meluas hingga karyawan kantor dan profesional.
The numbers:
- #localpride di Instagram: 2 juta+ posts
- #Ventela: 420 ribu posts
- #SepatuCompass: 199 ribu posts
- #VentelaPublic: 119 ribu posts
Ini bukan gerakan underground. Ini mainstream.
Yang berubah:
Dulu: Sepatu lokal = kalangan pelajar atau komunitas sneaker
Sekarang: Karyawan kantor, manajer, profesional
Dulu: “Gak ada pilihan lain”
Sekarang: “Lebih baik ini daripada fake international brand”
Key insight dari research: “Konsumen merasa memakai merek lokal asli lebih baik ketimbang memakai barang impor palsu demi mengekspresikan jati diri dan mendukung kreativitas anak bangsa.”
Translation: Buying local = self-respect + supporting homegrown creativity.
Kenapa Sekarang? Media Sosial + Quality Improvement
The catalyst: Gerakan #LocalPride sekitar 2018-2019.
Figur publik like Najwa Shihab (Compass campaign), Dr. Tirta Mandira Hudhi (LocalPride movement), bahkan Presiden Jokowi (wearing NAH Project) gave legitimacy.
Tapi yang bikin stick: product quality actually improved.
Research mencatat: “Beberapa sepatu lokal terbukti kualitasnya sebanding dengan merek luar, sehingga konsumen merasa lebih baik membeli produk lokal asli daripada produk impor tiruan.”
The reality check:
- Material: Kulit dari Garut, outsole dari Surabaya-Pasuruan
- Construction: Pabrik yang sama bikin Nike/Adidas juga produksi brand lokal
- Durability: Testimonial 2-3 tahun usage common
- Design: Makin refined, gak lagi kelihatan “trying to copy”
Platform momentum:
- Instagram: OOTD ngantor pakai sepatu lokal viral
- TikTok: #SepatuLokal punya jutaan views, content creator review kenyamanan sepatu lokal
- Twitter/X: Testimonial “bangga pakai sepatu lokal ke meeting dengan klien”
User-generated content ini powerful karena authentic. Bukan paid endorsement – ini real people sharing real experience.
Bukan “Murahan” Lagi – Ini Legitimate Choice
Let’s address the elephant in the room.
Dulu stigma: “Sepatu lokal = budget option.”
That narrative is dead.
Sekarang positioning: “Sepatu lokal = smart choice.”
Why?
1. Value for Money Yang Actual Make Sense
- Ortuseight: Rp400-600 ribu → quality comparable Nike Rp1,2 juta
- Kanky: Rp200-400 ribu → design & comfort level merek Rp800 ribu+
- Brodo leather: Rp600-900 ribu → construction setara imported brand Rp1,5 juta
Lu gak “settle for less”. Lu getting more for your money.
2. Durability Yang Proven
Research data: “Kualitas bahan kulit, kerapian jahitan, dan kenyamanan desainnya tidak kalah dari brand impor.”
Real world: Colleague testimonial 2-3 years usage.
Compare that to Nike yang solenya copot after 1 year of regular use (yes, this happens).
3. Design Evolution
Ini yang paling impressive.
Compass berhasil re-brand dari “sepatu SMA” jadi streetwear icon.
Ventela nge-drop Ventela Public yang design-nya minimalist dan universal.
Brodo masuk premium leather segment dengan confidence.
NAH Project bikin knit sneakers yang look international.
They’re not copying anymore. They’re creating.
4. Emotional Value
Research quote yang gue relate: “Para pengguna sepatu lokal merasa bangga karena dapat mendukung produk dalam negeri dan perekonomian lokal.”
But it’s not blind nationalism. It’s pride based on actual quality.
Feeling good wearing something yang lu tau:
- Made by skilled Indonesian craftsmen
- Support local economy
- Comparable (atau better) quality than overpriced imports
That hits different.
Brand Lokal Favorit untuk Kantor (Research-Backed + Personal Observation)
Let me break down the top players based on research data + what I actually see:
Casual/Sneakers Category:
Compass – “Raja Hype” di kalangan anak muda. Kolaborasi dengan figur publik boost brand awareness. 1 juta+ Instagram followers.
Ventela – “Juara kualitas & kenyamanan untuk harga terjangkau.” Ultralite Foam technology bikin nyaman seharian. Model hitam/putih bisa masuk smart casual.
Ortuseight – Performance leader. Hyperblast series punya following kuat di kalangan yang actually care about shoe technology.
Kanky – Gen Z favorite. Price point Rp200-400k dengan design yang surprisingly premium-looking.
NAH Project – Viral setelah Jokowi pakai. Knit construction ringan, cocok untuk casual office/startup environment.
Formal/Leather Category:
Brodo – Iconic di segmen leather lokal. Premium quality dengan harga relatif terjangkau. Garansi 3 bulan setiap pembelian (confidence in their product).
Gino Mariani – Established brand. Sepatu formal dari kulit asli, kenyamanan insole jadi nilai jual. Distribusi luas di mall-mall.
Portee Goods – Menawarkan custom made service. Lu bisa bikin sepatu kerja sesuai preference.
Women’s Segment:
Pvra – Terkenal dengan beaded sandals handmade. Populer sejak 2015, cocok untuk formal/semi-formal office.
Adorable Projects, Jovem Studio – Flat shoes nyaman untuk daily office use.
Mader, MKS Shoes – Desain edgy yang bisa elevate office outfit.
Research notes: “Tersedianya ukuran besar di brand lokal (beberapa hingga size 42 wanita) juga menguntungkan profesional wanita yang dahulu sulit mencari sepatu kerja modis dengan ukuran non-standar.”
The Bigger Picture: Mindset Shift
This trend is bigger than shoes.
Research conclusion nailed it: “Fenomena ini tidak hanya soal mode atau gaya semata, melainkan juga representasi dari perubahan sikap masyarakat terhadap produk lokal.”
What changed:
Before: “Pakai brand lokal karena gak mampu beli yang mahal”
Now: “Pakai brand lokal karena it makes more sense”
Before: “Malu kalau ketahuan sepatu lokal”
Now: “Bangga dan confident share di Instagram”
Before: “Brand lokal = kualitas questionable”
Now: “Brand lokal = legitimate option dengan proven quality”
Bahkan beberapa kantor sekarang ada “Local Pride Day” di mana employees encouraged pakai fashion items dari brand lokal.
The economic angle:
Indonesia produsen sepatu #4 dunia. Kapasitas produksi 1,41 miliar pasang per tahun. Pabrik kita yang bikin Nike, Adidas, New Balance untuk pasar global.
We have the infrastructure. We have the skills. We have the quality control.
Yang kurang dulu cuma brand recognition and consumer confidence.
Now? Both are building.
Bottom Line
Tren sepatu brand lokal di kantor Jakarta bukan temporary fad.
Ini structural shift driven by:
- ✅ Actual quality improvement
- ✅ Better design & positioning
- ✅ Value proposition yang make sense
- ✅ Social validation via media sosial
- ✅ Proven durability (2-3 years testimonials)
Research prediction: “Tren ini akan terus berlanjut dan semakin meluas. Jakarta sebagai barometer gaya hidup urban Indonesia kemungkinan akan terus menyaksikan lebih banyak kaki-kaki melangkah percaya diri ke kantor dengan sepatu lokal.”
From my SCBD observation? I agree.
Yang gue liat bukan “gerakan support lokal karena terpaksa.”
Yang gue liat adalah: people choosing local brands because they’re genuinely good products.
And when quality meets national pride?
That’s when you get movement that sticks.
Sumber data:
- Personal observation, SCBD Jakarta (2023-2025)
- “Tren Sepatu Brand Lokal untuk ke Kantor di Jakarta” – Research paper (2025)
- Instagram hashtag analysis (#localpride, #sepatulokal, brand-specific tags)
- Media coverage: ANTARA News, Suara.com, EKRUT Media
- Direct testimonials from office colleagues
Disclaimer: Ini bukan sponsored content. Gue genuinely impressed by the local shoe industry evolution and wanted to document what I see happening real-time.


Tinggalkan Balasan