Kita produsen sepatu nomor 4 dunia. Pabrik-pabrik kita mengirim sepatu ke 80 negara. Ekspor sepatu Indonesia tahun 2024 tembus US$4,69 miliar – itu sekitar Rp76 triliun.
Tapi ada yang aneh.
Brand lokal yang mau produksi sepatu berkualitas malah kesulitan dapet supplier bagus. Kenapa? Karena supplier terbaik kita sibuk bikin Nike dan Adidas.
Ini bukan tentang nasionalisme murah. Ini tentang ekonomi yang bikin kepala pusing.
Data Ekspor: Angka-Angka yang Bikin Bangga
Mari kita lihat dulu achievement-nya:
Produksi nasional:
- 1,41 miliar pasang sepatu per tahun (data 2018)
- Kontribusi 4,6% dari total produksi sepatu dunia
- 18.687 unit usaha alas kaki di Indonesia
- Serap 795.000 tenaga kerja
Performa ekspor:
- Nilai ekspor sepatu olahraga saja: US$4,69 miliar (2024)
- Volume: 241 ribu ton sepatu per tahun
- Ekspor naik 18% tahun-ke-tahun
- Destinasi utama: Amerika Serikat, China, Belgia
Nike Inc. sendiri mengekspor 200 juta pasang lebih dari pabrik Indonesia setiap tahun. PT Yih Quan Footwear Indonesia di Batang investasi Rp1,7 triliun. PT Wangta Agung di Sidoarjo produksi untuk Reebok, Converse, Asics, Diadora.
Dari data ini keliatan kan – industri sepatu Indonesia gede banget.
Tapi Ini Dia Masalahnya
Dari 1,41 miliar pasang yang kita produksi, 85-90% diekspor.
Yang beredar di pasar lokal? Cuma 10-15%. Dan kebanyakan ya… tetep Nike, Adidas, Puma yang diproduksi di Indonesia tapi dijual balik ke kita dengan harga internasional.
Brand lokal kayak Ortuseight, Compass, Ventela, NAH Project? Mereka berjuang dapet kapasitas produksi dari supplier-supplier yang sama.
Kenapa?
Paradoks Rupiah Lemah: Untung untuk Siapa?
Ini yang jarang orang bahas.
Rupiah kita lemah terhadap dolar. Tahun 2015, rupiah turun 10% – ekspor sepatu langsung naik. Tahun 2024, ekspor naik lagi 18%. Pola yang sama terus berulang.
Logikanya gini:
- Supplier dapat order Nike dalam dolar
- Bayaran US$10 per pasang = Rp163.500
- Margin besar, pembayaran stabil, order jutaan pasang
- Supplier dapat order brand lokal dalam rupiah
- Bayaran Rp150.000 per pasang
- Margin lebih tipis, order ratusan/ribuan pasang
- Risiko pembayaran lebih tinggi
Mana yang lu pilih kalau lu jadi supplier?
Ini bukan tentang supplier kita jahat atau gak nasionalis. Ini bisnis. Weak rupiah bikin ekspor lebih profitable. Period.
Dan supplier terbaik – yang punya teknologi, material bagus, QC ketat – mereka prioritas buyer internasional yang bayar dolar. Brand lokal dapat second-tier capacity, atau antri panjang, atau bayar lebih mahal.
Real Talk: Sistem Ini Benefit Siapa?
Yang untung:
- Pabrik besar (Nike Inc., Adidas subcontractors)
- Supplier yang fokus ekspor
- Devisa negara (US$4,69 miliar/tahun)
- 795.000 pekerja dapat gaji
Yang struggle:
- Brand lokal yang mau kualitas tinggi
- Konsumen Indonesia yang bayar harga internasional untuk sepatu made in Indonesia
- Entrepreneur sepatu yang mau scale up
Ini bukan conspiracy. Ini struktur ekonomi.
Ada yang Berhasil, tapi…
Beberapa brand lokal memang berhasil:
Ortuseight – dominasi 35,5% market share Shopee, produksi konsisten, harga reasonable. Mereka kerja sama dengan PT Wangta Agung yang juga produksi merek internasional.
Compass – cult brand dengan limited drops, tapi mereka gak scale besar karena… ya, kapasitas supplier.
NAH Project – sepatu yang dipake Jokowi ketemu Elon Musk. Exposure gede, tapi scaling tetep tantangan.
Sagara Boots & Pijakbumi – ekspor ke luar negeri, diakui kualitasnya. Tapi kata mereka sendiri: “terkendala akses bahan baku impor dan modal untuk ekspor.”
Mereka semua proven bisnis sepatu lokal bisa work. Tapi mereka semua menghadapi masalah yang sama: akses ke kapasitas produksi terbaik limited.
Solusi? Gak Ada yang Simpel
Platform media gak bisa solve masalah struktural. Tapi kita bisa:
- Expose sistemnya – Lu sekarang tau kenapa brand lokal struggle. Ini transparansi.
- Highlight brand yang make it work – Kasih spotlight ke Ortuseight, Compass, dll yang proven bisa deliver kualitas meski dengan constraint ini.
- Guide smart buying – Bantu konsumen paham: “Mau beli apa? Untuk apa? Budget berapa?” Given the system, ini pilihan terbaik lu.
Yang gak bisa kita lakuin: ubah fakta bahwa ekspor dalam dolar lebih profitable daripada jualan lokal dalam rupiah.
Bottom Line
Indonesia produsen sepatu nomor 4 dunia. Kita ekspor miliaran pasang. Pabrik kita bikin sepatu untuk brand-brand terkemuka dunia.
Tapi sistem ekonomi kita bikin supplier terbaik prioritas ekspor. Brand lokal dapat sisa kapasitas. Konsumen Indonesia bayar harga internasional untuk sepatu yang diproduksi 50 km dari rumah mereka.
Ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang gimana sistem ekonomi global bekerja. Weak currency + strong manufacturing = export heaven, domestic challenge.
Knowing this, what would you do?
Beli brand lokal yang fight the good fight? Beli internasional karena value for money lebih jelas? Mix keduanya depending on use case?
Gak ada jawaban “benar”. Cuma ada realitas ekonomi dan pilihan lu dalam menghadapinya.
Data sources:
- Badan Pusat Statistik (BPS)
- Kementerian Perindustrian
- Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)
- Databoks Katadata
Disclaimer: Artikel ini ditulis Februari 2025 berdasarkan data publik yang tersedia. Angka-angka bisa berubah. Yang gak berubah: paradoks ekonomi di atas tetap berlaku selama rupiah lemah dan ekspor profitable.


Tinggalkan Balasan