Struktur Perdagangan Global Membuat Kita Beli Mahal Produk yang Kita Buat Sendiri
Dedeh dan Sepatu yang Tidak Bisa Dia Beli
Mei 2025. Dedeh Nurhasanah, teknisi pabrik Nike di Indonesia dengan pengalaman 5 tahun, berdiri di toko Nike di Portland, Oregon.
Dia sedang dalam Worker Action Delegation—perjalanan yang disponsori serikat buruh untuk berbicara langsung dengan manajemen Nike. Di depannya: sepatu Nike yang dia bantu rakit. Harga: lebih dari 200 dolar. Gajinya per bulan: 3 juta rupiah (184 dolar).
Satu pasang sepatu = lebih dari gaji bulanannya.
Dedeh bilang ke wartawan: dia merasa “proud and sad at the same time.” Bangga karena karyanya sampai ke toko-toko Amerika. Sedih karena dia tidak mampu membeli hasil kerjanya sendiri.
Ini bukan cerita motivasi soal “kerja keras untuk mimpi.” Ini adalah bukti dokumentasi tentang bagaimana sistem ekonomi global bekerja—dan siapa yang diuntungkan, siapa yang tidak.
Paradoks: Kita Produksi, Kita Ekspor, Kita Beli Mahal
Indonesia adalah produsen sepatu terbesar ke-4 di dunia setelah Tiongkok, India, dan Vietnam. Tahun 2023, Indonesia memproduksi 807 juta pasang sepatu.
Dari 807 juta pasang itu, 55% diekspor (445 juta pasang). Nilai ekspornya: 6,44 miliar dolar (2023). Kita bicara soal industri besar—ratusan ribu pekerja, puluhan pabrik besar, miliaran dolar nilai ekonomi.
Yang menarik: sebagian besar sepatu yang diekspor adalah Nike, Adidas, New Balance, Puma—brand global. Pabrik-pabrik di Indonesia memproduksi sepatu-sepatu ini dengan spesifikasi ketat, quality control tinggi, untuk pasar Amerika, Eropa, Jepang.
Lalu sepatu-sepatu yang sama itu dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang—kalau dihitung dari purchasing power—jauh lebih mahal relatif terhadap gaji.
Contoh konkret:
- Pekerja pabrik sepatu Indonesia: Gaji rata-rata 3 juta rupiah/bulan (179 dolar)
- Nike/Adidas harga retail Indonesia: 1,8 juta – 4 juta rupiah
- Persentase dari gaji bulanan: 26-47% untuk sepatu entry-level sampai mid-tier
Bandingkan dengan:
- Median income Amerika: 6.000 dolar/bulan
- Nike/Adidas harga retail Amerika: 100-200 dolar
- Persentase dari gaji bulanan: 2-4%
Kita bayar 10-15 kali lipat lebih mahal secara relatif untuk produk yang kita buat sendiri. Orang Amerika bayar 2-4% gaji bulanan untuk sepatu. Kita bayar 26-47%.
Ini bukan soal “sepatu mahal karena kualitas bagus.” Ini soal struktur ekonomi yang membuat produk kita sendiri tidak affordable untuk pekerja kita sendiri.
Siapa yang Dapat Apa: Pembagian Nilai dalam Satu Sepatu
Mari kita breakdown satu sepatu Nike seharga 100 dolar yang dijual di Amerika. Sepatu ini dibuat di Indonesia. Siapa dapat berapa?
Manufacturing (Indonesia):
- Biaya produksi pabrik: 28-30 dolar
- Profit margin pabrik: 2-3 dolar (7-10% margin)
- Yang diterima pekerja Indonesia dari 100 dolar retail: 2,50 dolar (2,5%)
Brand (Nike HQ di Oregon):
- Harga jual ke retailer (wholesale): 50 dolar (markup 100%)
- Profit Nike per sepatu: 5-8 dolar
Retail (Toko di Amerika):
- Harga jual konsumen: 100 dolar (markup 100% lagi)
- Profit retailer: 8-13 dolar
Lihat polanya?
Indonesia yang memproduksi fisik sepatunya dapat 2-3 dolar profit. Nike yang memiliki brand dan design dapat 5-8 dolar. Retailer yang hanya menjual dapat 8-13 dolar.
Dan yang paling mencengangkan: share pekerja turun dari waktu ke waktu. Data dari Clean Clothes Campaign menunjukkan bahwa di tahun 1995, pekerja mendapat 4% dari harga retail Nike. Tahun 2017, turun jadi 2,5%.
Dalam 22 tahun, share pekerja turun 30%—sementara Nike revenue tumbuh jadi 51,4 miliar dolar (2024).
Sistem ini punya nama dalam ekonomi: smile curve. Visualisasikan grafik berbentuk senyuman. Di ujung kiri (R&D, design, branding) value-nya tinggi. Di tengah (manufacturing) value-nya rendah. Di ujung kanan (marketing, retail, after-sales) value-nya tinggi lagi.
Indonesia застряла di tengah—bagian paling bawah dari kurva senyuman.
Kenapa Indonesia Застряла di Posisi Ini?
1. Kepemilikan Asing dan Kontrol Brand
Kementerian Perindustrian Indonesia (2024) mengonfirmasi: 30% dari seluruh pekerja pabrik Nike dan Adidas global adalah orang Indonesia. Ada 54 pabrik supplier Nike di Indonesia, plus beberapa pabrik Adidas. Total: 271.774 pekerja sepatu secara nasional.
Pertanyaannya: siapa yang punya pabrik-pabrik ini?
Sebagian besar pabrik dimiliki investor asing—terutama dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan. Bukan Nike atau Adidas yang langsung punya (mereka pakai model outsourcing), tapi juga bukan perusahaan Indonesia.
Contoh:
- PT Adis Dimension Footwear (supplier Nike) = dimiliki Shoetown Group (Tiongkok)
- PT Pratama Abadi Industri (supplier Nike) = dimiliki investor Korea
- PT Bintang Indokarya Gemilang (supplier Adidas) = dimilik investor asing
Periode 2014-2016 saja, ada 1,5 miliar dolar investasi asing yang masuk untuk membangun 15 pabrik baru. Rata-rata 100 juta dolar per pabrik, kapasitas 10-15 juta pasang per tahun.
Modal ada di luar. Keputusan strategis ada di luar. Yang ada di Indonesia: tanah, tenaga kerja, dan fasilitas pajak.
2. R&D dan Design di Oregon dan Jerman, Bukan di Jakarta
Nike punya LeBron James Innovation Center di Oregon: 700.000 kaki persegi, lengkap dengan:
- Sport Research Lab: 84.000 kaki persegi, 400 kamera
- Advanced Product Creation Center: 80+ mesin rapid prototyping
- Biomechanics research facilities
- Department of Nike Archives: 250.000+ objek sejarah produk
Adidas punya kampus di Herzogenaurach, Jerman:
- ARENA building: 2.000 karyawan di design/innovation
- HALFTIME building: showroom dan strategy center
- R&D facilities untuk material development
Indonesia? Zero fasilitas R&D atau design center yang comparable. Yang ada di Indonesia: mesin jahit, mesin cutting, mesin assembly. Kita dapat spesifikasi dari Oregon, kita produksi, kita kirim.
Data membuktikan ini: Indonesia hanya menangkap 32% dari nilai R&D services dalam rantai nilai sepatu. 68% mengalir ke penyedia asing. Computer services: 28% Indonesia, 72% asing. Machinery leasing: 39% Indonesia, 61% asing.
Pola yang jelas: high-value activities (design, innovation, branding, marketing) tetap di Barat. Low-value activities (assembly, manufacturing) di Indonesia.
3. Intellectual Property dan Profit Repatriation
Nike dan Adidas tidak hanya mengontrol design—mereka mengontrol intellectual property: trademark, patent, brand equity. Dan IP ini digunakan untuk strategic tax planning.
Paradise Papers leak (2017) mengungkap: Nike mentransfer trademark Swoosh-nya ke anak perusahaan di Bermuda. Anak perusahaan ini lalu charge royalty 3,86 miliar dolar ke kantor pusat Eropa antara 2010-2012. Hasilnya: 12,2 miliar dolar profit offshore dengan effective tax rate di bawah 2%.
Mekanisme royalty ini adalah cara profit mengalir keluar dari negara manufaktur. Pabrik di Indonesia bayar licensing fee ke holding company di tax haven. Profit yang seharusnya bisa ditahan di Indonesia, mengalir keluar—legal, tapi clearly exploitative.
4. Rupiah Lemah Menciptakan Trap
Rupiah melemah dari 9.000/dolar (2009) ke 13.000-14.000/dolar (2016-2017) ke sekitar 16.650/dolar (sekarang).
Efeknya terhadap manufaktur:
- Biaya produksi (dalam rupiah): tetap atau naik perlahan
- Harga jual ekspor (dalam dolar): tetap kompetitif karena rupiah melemah
- Margin dalam rupiah: naik otomatis tanpa perlu efisiensi atau upgrade
Contoh: Biaya produksi 400.000 rupiah per pasang.
- Rupiah 9.000/USD → break-even di 44 dolar
- Rupiah 13.000/USD → break-even di 30 dolar
- Rupiah 16.650/USD → break-even di 24 dolar
Rupiah lemah membuat ekspor profitable tanpa perlu invest di R&D, branding, atau moving up value chain. Manufacturer dapat margin cukup dari pure assembly work. Tidak ada insentif untuk upgrade.
Ini adalah trap struktural. Kelemahan rupiah dalam jangka pendek mempertahankan daya saing ekspor. Dalam jangka panjang, mengunci Indonesia dalam posisi low-value manufacturing, karena tidak ada tekanan untuk berkembang.
Dan karena 90%+ ekspor sepatu Indonesia denominated dalam USD (2022), trap ini self-reinforcing.
Paralel Kolonial: Bukan Teori, Tapi Pattern Recognition
Ini adalah bagian yang paling controversial—membandingkan sistem sekarang dengan kolonialisme. Tapi mari kita lihat pattern, bukan emosi.
Kolonial Belanda (VOC, 1602-1799):
- Indonesia ekspor raw materials (rempah, kopi, karet) → diolah di Eropa → dijual kembali sebagai finished goods
- Infrastruktur dibangun untuk ekstraksi dan ekspor, bukan untuk pengembangan domestik
- Forced deliveries dengan harga yang ditentukan VOC
- Profit mengalir ke Amsterdam, bukan ke Nusantara
- Teknologi dan high-value activities tetap di Eropa
Modern (2000-sekarang):
- Indonesia ekspor manufactured goods (sepatu) → di-brand di Amerika/Eropa → dijual kembali dengan markup besar
- Infrastruktur manufacturing untuk ekspor, tapi R&D dan innovation tetap di luar
- Purchasing orders dengan spesifikasi dan harga yang ditentukan Nike/Adidas
- Profit mengalir via royalty dan brand markup ke Oregon/Herzogenaurach (dan tax havens)
- Teknologi dan high-value activities (design, branding, marketing) tetap di Barat
Pattern dasarnya sama: Indonesia menyediakan production capacity, tapi value capture tetap di luar.
Akademisi seperti Intan Suwandi (2019) dalam “Value Chains: The New Economic Imperialism” mendokumentasikan ini: 79% industrial workers sekarang ada di Global South (naik dari 34% di 1950), tapi “many economies in Global South remain locked into low-value segments of global value chains.”
Istilah teknisnya: neo-colonialism in trade structures. Bukan colonialism dalam arti kontrol politik langsung, tapi colonialism dalam arti struktur ekonomi yang membuat former colonies tetap sebagai penyedia cheap labor untuk produk yang mereka tidak bisa afford sendiri.
Thesis Fathimah (2018, Uppsala University) secara eksplisit menganalisis Indonesia dengan framework “extractive institutions” dari Acemoglu & Robinson, menunjukkan bagaimana pola kolonial Belanda—patrimonialism, korupsi, geographic concentration di Jawa, stratifikasi—persist post-independence.
Apakah situasi sekarang exactly sama dengan VOC? Tidak. Indonesia punya sovereignity politik. Workers punya skills. Ada sukses stories kecil. Tapi struktur value extraction-nya remarkably similar.
Brand Lokal: Struggle Melawan Sistem
Jika pabrik Indonesia bisa produksi Nike dan Adidas dengan quality world-class, kenapa brand lokal struggle?
Presiden Jokowi sendiri acknowledge ini. Jakarta Sneaker Day (Maret 2018), Jokowi bilang exhibition “didominasi oleh international brands” tapi dia “yakin sepatu Indonesia lebih baik” dengan detail produksi yang “exquisite.” Maret 2021, dia launch kampanye “hate foreign products” untuk dorong konsumsi lokal.
Fact bahwa Presiden perlu explicitly campaign untuk buy local menunjukkan ini nationally recognized problem.
Mitos: Brand Lokal Dibuat Pabrik yang Sama dengan Nike/Adidas
Ini FALSE. Gue verify ini extensively.
- Specs diproduksi PT Berca Sportindo (founded 1994), independent company
- League diproduksi PT League Indonesia (established 2004), juga independent
- Nike production lewat Korean-owned PT Pratama Abadi Industri
- Adidas lewat PT Bintang Indokarya Gemilang
Ini adalah perusahaan yang berbeda. Bukan satu consortium. Mitos ini muncul karena orang mengasumsikan “made in Indonesia = same factory,” padahal strukturnya lebih complex.
Yang benar: brand lokal punya akses ke skilled workers dan supply chain yang sama (karena geographic cluster di Jawa Barat dan Jawa Timur), tapi mereka bukan literally dibuat di pabrik Nike/Adidas.
Challenge Nyata yang Brand Lokal Hadapi
1. Perception & Brand Equity
Research menunjukkan konsumen Indonesia associate Nike/Adidas/Puma dengan higher status dan quality. Decades of global marketing menciptakan halo effect yang brand lokal harus fight against.
Beberapa brand lokal bahkan mistake for foreign brands—which is simultaneously bukti kualitas mereka dan indikasi seberapa besar preference untuk “foreign” label.
2. Capital & Scale
Manufacturing scale matters. Nike/Adidas place orders dalam millions of pairs dengan pembayaran USD. Brand lokal place orders dalam tens of thousands dengan pembayaran rupiah.
Dari perspektif pabrik: mana yang prioritize? Large, stable, USD-denominated export orders, atau smaller, fluctuating, rupiah domestic orders?
Factory capacity utilization Indonesia cuma 50-60%. Secara teori ada room untuk local brands. Praktiknya, factories prioritize export contracts karena volume, currency, dan long-term relationship.
3. Marketing Budget
Nike marketing budget: miliaran dolar, endorsement deals dengan athletes top dunia, Super Bowl ads, flagship stores di every major city.
Brand lokal marketing budget: ratusan juta rupiah, social media marketing, word of mouth.
Bukan competition yang fair.
Success Stories: Exception that Proves the Rule
Ada dua brand yang Kementerian Perindustrian celebrate sebagai success breaking into global market:
Sagara Boots: Founded 2010, handmade leather boots, 40-60 pairs per bulan, harga 6 juta+ rupiah, 4-month waiting list. Achieve “tier one” boot status comparable to premium Japanese, British, American makers.
Pijakbumi: Eco-friendly shoes menggunakan natural materials, ekspor ke 20 negara.
Both dapat support dari Indonesian Footwear Industry Development Center. Both cite struggles dengan access to raw materials dan finance.
Fact bahwa dua brand ini celebrated sebagai exceptions membuktikan mereka bukan the norm. Ini adalah outliers yang succeed despite the system, bukan because of it.
Mayoritas brand lokal face uphill battle against decades of brand equity accumulation yang Nike/Adidas punya, plus structural disadvantages dalam access to capital, manufacturing capacity, dan marketing reach.
Apakah Ada Jalan Keluar?
Pertanyaan sejuta dolar: bisa tidak Indonesia escape dari trap ini?
Jawaban jujur: sulit, tapi bukan impossible. Tapi perlu understand dulu kenapa ini sulit.
Kenapa Sulit
1. Competitive Dynamics
Indonesia compete dengan Vietnam, Bangladesh, Cambodia untuk manufacturing. Mereka offer labor costs lebih rendah:
- China: 6,50 dolar/jam
- Indonesia: 3-4 dolar/jam
- Vietnam: 2,99 dolar/jam
- Cambodia/Bangladesh: <2 dolar/jam
Kalau Indonesia wage naik (which should, untuk workers), risk capital moves ke negara cheaper. Ini race to the bottom yang structural.
2. Capital Requirements
Building a global brand perlu massive investment. Brand equity, distribution networks, marketing—all capital-intensive. Nike punya decades of accumulated brand value. Brand lokal mulai dari zero.
3. Technology & Skills Gap
Moving up value chain perlu investment dalam:
- R&D facilities
- Design talent
- Innovation capacity
- Supply chain control
Semua ini perlu sustained investment. Dan selama rupiah lemah making manufacturing profitable, ada limited incentive untuk invest heavily dalam areas ini.
Apa yang Possible?
Korea dan Japan membuktikan upgrading possible. Both started sebagai low-cost manufacturers, both sekarang have strong domestic brands dan technology leadership.
Tapi both butuh:
- Industrial policy yang deliberate
- Investment dalam education dan R&D
- Domestic market yang strong untuk support local brands
- Strategic trade policy
Di level brand individual: Success stories seperti Sagara Boots dan Pijakbumi show path forward. Focus pada niche markets, build quality reputation, leverage Indonesia craftsmanship story.
Di level konsumen: More Indonesians choosing local brands help. Tidak karena nationalism, tapi karena brands like Ortuseight, Prabu, Ventela genuinely offer good value.
Di level structural: Ini yang paling sulit. Perlu policy changes, investment in education dan innovation, dan—most critically—willingness to potentially sacrifice short-term export competitiveness untuk long-term value chain upgrading.
Kesimpulan: Understanding the System
Artikel ini bukan tentang “Nike jahat” atau “konsumen bodoh.” Ini tentang memahami bagaimana sistem ekonomi global bekerja dan siapa yang diuntungkan dalam sistem ini.
Facts yang tidak bisa dibantah:
- Indonesia produksi ratusan juta sepatu per tahun untuk global brands
- Workers earn 2,5% dari retail price—down from 4% di 1995
- Sepatu yang workers buat cost 26-47% dari gaji bulanan mereka, versus 2-4% untuk Americans
- 68% dari R&D value flows ke foreign providers
- Factories foreign-owned, IP foreign-controlled, profits repatriated via tax havens
Ini bukan conspiracy theory. Ini adalah documented reality of how global value chains work.
Pattern-nya mirror kolonialisme bukan dalam political control, tapi dalam economic structure: Indonesia provides production capacity, value capture happens elsewhere.
Apakah ada solusi mudah? Tidak. Apakah kita stuck selamanya? Juga tidak—tapi butuh deliberate effort, significant investment, dan strategic policy.
Yang pasti: Step pertama adalah understanding how the system works. Baru setelah paham, kita bisa discuss what to do about it.
Dedeh Nurhasanah berdiri di toko Nike di Portland, melihat sepatu yang dia buat, yang dia tidak bisa beli. Ini bukan individual tragedy—ini adalah structural symptom.
Dan symptoms ini, kalau kita ngulik cukup dalam, reveals how modern capitalism reproduces colonial extraction patterns dalam bentuk baru.
Sumber & Data:
- Indonesian Ministry of Industry (2023-2024) – Production & export statistics
- Clean Clothes Campaign (2017) – “Foul Play” report on wage share
- Asia Floor Wage Alliance (2025) – Worker testimony documentation
- Conference Board of Canada (2018) – Global value chain analysis for Indonesian footwear
- Paradise Papers (2017) – Nike tax structure
- Antara News, Kompas, Detik Finance – Local brand coverage & government statements
- Academic sources: Suwandi (2019), Fathimah (2018), Acemoglu & Robinson
Catatan Metodologi: Semua data di artikel ini crosschecked dari minimal 2 sumber independent. Claim tentang upah workers verified lewat labor rights organizations + worker testimony. Production statistics dari government agencies. Value chain breakdown dari industry analysis + academic research.
Artikel ini deliberately avoid sensationalism. Facts speak for themselves.
Contents
- 1 Dedeh dan Sepatu yang Tidak Bisa Dia Beli
- 2 Paradoks: Kita Produksi, Kita Ekspor, Kita Beli Mahal
- 3 Siapa yang Dapat Apa: Pembagian Nilai dalam Satu Sepatu
- 4 Kenapa Indonesia Застряла di Posisi Ini?
- 5 Paralel Kolonial: Bukan Teori, Tapi Pattern Recognition
- 6 Brand Lokal: Struggle Melawan Sistem
- 7 Apakah Ada Jalan Keluar?
- 8 Kesimpulan: Understanding the System


Tinggalkan Balasan